Antara Iman dan Akal

Oleh : Rifqi Fauzi

''Dan, kami ilhamkan kepada ibu Musa, ''Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).
Dan, janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'' Dan, menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya, hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).'' (QS Alqashash [28]: 7 dan 10).



Dalam menjalankan perintah agama, terkadang ada beberapa perintah dan janji Allah SWT yang menurut pandangan manusia tidak masuk akal. Sehingga, terkadang kita ragu dalam mengimani dan menjalankannya. Padahal, sebenarnya, ketika ada suatu janji atau perintah Allah yang tidak masuk akal, hal itu disebabkan keterbatasan akal kita dalam menembus skenario Allah SWT.
Ayat di atas mengisahkan Allah SWT memerintahkan ibunda Nabi Musa AS menghanyutkan Nabi Musa ke sungai jika anaknya ingin selamat dari tentara Firaun. Secara manusiawi, hal ini tidaklah masuk akal. Karena, bisa saja Nabi Musa malah meninggal terbawa hanyut sungai.
Ibunda Musa pun merasakan tidak masuk akalnya perintah Allah. Sehingga, dalam ayat di atas, Allah SWT harus berulang kali meneguhkan hatinya. Dengan mengimani dan mengikuti perintah Allah SWT, Nabi Musa pun selamat dan kembali kepangkuan ibunya ditambah lagi dengan hidup di istana megah dan menjadi nabi sesuai janji Allah terhadapnya.

Begitu pun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar bersama bayinya Nabi Ismail di bukit yang gersang dan jauh dari keramaian, tanpa dibekali makanan dan minuman. Secara manusiawi, hal ini sungguhlah tindakan yang kejam dan tidak masuk akal.

Namun, disebabkan keimanannya terhadap janji Allah SWT, akhirnya bukit yang gersang itu menjadi kota yang paling banyak dikunjungi umat manusia. Namun, terkadang kita masih banyak yang menjalankan perintah Allah bukan berlandaskan keimanan, melainkan masih melihat rasional dan untung rugi. Masih banyak yang enggan berinfak dan mengeluarkan zakat karena takut rugi. Padahal, Allah berjanji akan melipatgandakan harta kita jika kita mau berinfak. Ketahuilah janji Allah itu pasti dan keragu-raguan itu datangnya dari setan.
''Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka, sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.'' (QS Faathir [35]: 5).

0 komentar: