Yahudi Menggenggam Dunia (22)

Oleh : William G. Carr
Penterjemah : Musthalah Maufur MA

KONSPIRASI DAN MASYARAKAT RUSIA
Rahasia Sebelum Revolusi
Serbuan Napoleon terhadap Rusia tahun 1812 mengakibatkan timbulnya goncangan hebat, dengan meninggalkan korban besar, dan sejumlah lainnya mengalami luka parah.
Czar Rusia Alexander I kemudian segera membenahi negerinya. Ia mengeluarkan undang-undang baru, yang berhubungan dengan langkah untuk mempersatukan lapisan masyarakat yang porak-poranda akibat perang itu. Di antara undang-undang baru itu adalah dihapuskannya hukuman pembuangan, yang sebelumnya dikenakan terhadap orang-orang Yahudi sejak 1772, yaitu suatu hukuman pengasingan berupa pembatasan tempat tinggal di suatu tempat tertentu. Czar Alexander bermaksud, agar orang Yahudi mau bekerja di ladang-ladang, serta mendorong mereka untuk berasimilasi dengan penduduk asli Rusia.



Pada tahun 1825 Nicholay I naik tahta sebagai Czar Rusia. Kebijakannya yang ditempuh berbeda dari kebijakan Czar Alexander. Nicholay melihat orientasi berfikir orang Yahudi hanya tertuju pada masalah ekonomi. Ia merasa cemas melihat kegiatan yang mereka lakukan dalam berbagai lapangan pekerjaan dan perekonomian Rusia. Mereka juga merupakan golongan masyarakat yang tidak mau membaur dengan masyarakat Rusia. Mereka senantiasa mempertahankan bahasa, budaya, pakaian dan adat istiadat sendiri. Melihat fenomena seperti itu Nicholay tergugah untuk mengambil kebijakan yang paling tepat baginya, dengan cara yang bisa ditempuh agar mereka bisa membaur. Ia mengeluarkan peraturan yang memaksa mereka memasukkan anak-anak mereka ke sekolah umum, agar kelak tumbuh dewasa seperti orang Rusia lainnya. Namun sayang, harapan Nicholay justru menjadi senjata makan tuan. Wajib belajar bagi anak Yahudi pada sekolah umum justru telah mencetak mereka menjadi golongan
masyarakat terpelajar yang kelak akan menduduki posisi penting dalam pemerintahan pada masa Alexander II. Sementara itu, identitas keyahudiannya tetap mereka pertahankan dalam semua aspek kehidupan mereka. Jumlah anak Rusia sendiri yang belajar tidak lebih banyak dari anak Yahudi.

Tahun 1855 Alexander II menaiki tahta kerajaan Rusia. Ia seorang Czar Rusia yang kelak oleh Disraeli dijuluki sebagai "Czar Terbesar Bagi Rusia", karena ia telah bekerja untuk memperbaiki nasib rakyat kelas bawah, golongan tertindas dan kaum tani. Di antara golongan yang dimaksud oleh Disraeli adalah golongan Yahudi. Inilah yang mendorong Disraeli memuji Alexander. Pada
masa sebelumnya, orang Yahudi terpelajar mengeluh karena mereka menemukan beberapa kesulitan untuk mendapat pekerjaan dalam pemerintah, dengan alasan agama yang mereka anut. Kemudian Alexander mengeluarkan instruksi kepada seluruh pejabat di Rusia untuk membuka pintu lebar-lebar pada seluruh instansi pemerintah bagi orang Yahudi, seperti hak yang diberikan kepada warga Rusia lainnya.

Kebijakan Czar Alexander II sebenarnya mengandung niat baik terhadap kelompok Yahudi, yang seharusnya disambut dengan sikap terima kasih. Akan tetapi, kenyataannya justru sebaliknya. Para sesepuh Yahudi ekstrimis yang punya hubungan dengan Konspirasi Internasional mengkhawatirkan, bahwa langkah politik Alexander akan mengakibatkan pembauran Yahudi ke dalam masyarakat Rusia, dan hal ini dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Ini akan menyulitkan Konspirasi memancing kerusuhan dan kebencian
di negeri yang sangat luas, yang pada saat itu dikenal sebagai bangsa yang taat beragama. Dengan demikian, Czar Alexander dianggap penghalang yang harus disingkirkan bagi Konspirasi. Langkah reformasi dan sikap toleransinya telah menyebabkan kesulitan bagi kaki-tangan Konspirasi untuk memancing terjadinya kerusuhan.

Bukan satu hal yang mengherankan, kalau di sana terdapat makar untuk membunuh Czar Alexander. Pada tahun 1866 terjadi percobaan pembunuhan, tapi gagal. Usaha pembunuhan yang kedua kali terjadi pada tahun 1879. pihak Konspirasi tidak kehilangan akal. Alexander terperdaya oleh siasat mereka, dan terperangkap di sebuah rumah seorang wanita Yahudi kaya bernama Hessia Helgman. Di rumah itulah Alexander menemui ajalnya dalam keadaan
misterius pada tahun 1881.

Program yang dirancang oleh Konspirasi menyebabkan timbulnya perang antara dua kerajaan besar, yaitu Rusia dan Inggris. Sasaran yang dimaksud oleh Konspirasi adalah :
Dampak umum dari perang itu akan berupa kehancuran fisik, psikologis, ekonomi, demoralisasi dan kehancuran sosial di kedua kerajaan yang berperang itu.
Mengeruk keuntungan besar-besaran dari penjualan senjata dan alat-alat perang kepada kedua belah pihak. Pada saat yang sama Konspirasi mengulurkan pinjaman berbunga kepada mereka.

Berikut dikutipkan tulisan Profesor Golden Smidt, guru besar ilmu sejarah modern pada Universitas Oxford, yang dimuat dalam majalah milik Universitas itu, edisi bulan Oktober 1881 :

"Kita sekarang berada di ambang pintu perang melawan Rusia. Perang ini kalau benarbenar
terjadi akan melibatkan seluruh rakyat kedua negara itu. Lembaga keuangan Yahudi di Eropa berusaha sekuat tenaga untuk mendorong agar perang ini terjadi. Terompet Yahudi yang paling besar perannya adalah mass-media mereka yang berpusat di Wina, ibukota kerajaan Austria."

Pembunuhan atas diri Alexander menimbulkan gelombang kekerasan di seluruh Rusia, yang mengakibatkan tindak kekerasan dan pembunuhan di mana-mana, sebagai ungkapan rasa dendam terhadap orang Yahudi. Untuk menanggulangi hal ini, pemerintah Rusia mengambil kebijakan baru dengan mengubah politiknya yang berkenaan dengan hak-hak orang Yahudi.
Kebijakan ini dituangkan dalam undang-undang baru yang dikenal dengan Peraturan Mei, karena peraturan ini dikeluarkan pada bulan Mei. Dalam peraturan ini terdapat larangan keras terhadap perkumpulan dan organisasi Yahudi. Para pendukung peraturan ini punya alasan kuat untuk membelanya. Dalihnya, kalau Czar Alexander II dengan segala sikap toleransi dan
kebijakannya tidak bisa membuat orang Yahudi puas dan berterima kasih, maka berarti mereka tidak akan puas dengan budi baik apa pun yang diberikan oleh Czar, kecuali jika negeri Rusia ini telah benar-benar tunduk di bawah kehendak mereka.

Sejarah kepedihan Yahudi kali ini terulang kembali. Mata kebencian dan rasa muak tertuju kepada mereka di Rusia, meskipun yang bertanggungjawab atas nasib itu sebenarnya adalah para pemimpin mereka sendiri. Seorang utusan Yahudi bernama Baron Gainsburg, seorang agen resmi dari kelompok Rothschild di Rusia bersama rekannya datang menghadap Czar baru,
Alexander III pada tahun 1882. Utusan itu mengajukan protes resmi terhadap peraturan baru tersebut. Kemudian Czar berjanji untuk mengadakan penyelidikan mengenai faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan terhadap orang Yahudi yang menyebabkan jatuhnya sejumlah tumbal manusia. Pada tanggal 3 September 1882 itu juga, penguasa Rusia mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hasil penyelidikan yang telah dilakukan sebagai berikut :

"Pemerintahan Rusia telah mencurahkan segala perhatian selama beberapa tahun kepada orang Yahudi, dan masalah yang dihadapi oleh mereka, serta hubungan mereka dengan rakyat Rusia lainnya. Akan tetapi, pemerintah melihat para pemeluk agama Kristen sangat menyedihkan, disebabkan oleh tingkah laku orang-orang Yahudi dalam semua lapangan pekerjaan dan perekonomian. Semua itu terjadi karena ulah tangan mereka selama 20 tahun. Mereka bukan saja memonopoli perdagangan dan hampir seluruh lapangan kerja secara sistematis dan terencana, tapi lebih dari itu, mereka melakukan hal yang sama dalam bidang sewa-menyewa dan pemilikan tanah. Pemerintah telah mengadakan pengamatan, bahwa kelompok Yahudi bekerja dalam bentuk organisasi rapi, dengan tujuan menguasai dan memonopoli sumber kekayaan negeri ini, dan akan melucuti bangsa Rusia dari kekayaan yang dimiliki oleh negeri
mereka. Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat tingkah orang Yahudi adalah masyarakat kelas bawah. Akibatnya, mereka bangkit melakukan tindak kekerasan melawan kelompok Yahudi. Maka pemerintah mengambil kebijakan, di satu sisi melindungi orang Yahudi dari tindak kekerasan, dan di sisi lain bertanggungjawab menegakkan keadilan dan kemaslahatan umum, untuk mencegah orang Yahudi menindas dan mengganggu orang Rusia, yang semua itu hanya akan merugikan negara."

Dari hasil penyelidikan di atas jelas tampak, bahwa sebab-sebab lahirnya undang-undang Mei bukan saja sebagai ungkapan rasa dendam atas terbunuhnya Czar Alexander II, melainkan karena adanya peringatan dari para ahli ekonomi Rusia yang tahu persis adanya niat jahat dari orang-orang Yahudi. Karena itu, pemerintah merasa perlu menyelamatkan perekonomian
dan kehidupan sosialnya secara tuntas dari ulah para pedagang dan rentenir Yahudi. Sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh pemerintah Rusia terhadap orang Yahudi itu membuat utusan Rothschild panas hati, mengadakan kegagalan misinya. Tak ayal lagi, para sesepuh Yahudi internasional lalu bertekad mencari strategi baru untuk menghadapi Czar Rusia. Senjata yang paling diandalkan oleh para sesepuh Yahudi adalah ekonomi dan keuangan yang mereka miliki. Dengan senjata ini mereka memerangi perdagangan Rusia di seluruh dunia, dengan menggunakan pengaruh keuangan yang mereka miliki di seluruh Eropa. Mereka memasang blokade terhadap seluruh produksi dan pemasaran barang-barang dari Rusia. Negara ini akhirnya jatuh dalam krisis ekonomi yang parah, dan kas negara makin habis terkuras, yang
mencapai puncaknya pada tahun 1905. Pada saat yang sama terjadi kerusuhan dan kekacauan di seluruh wilayah Rusia dengan dukungan dana dari Konspirasi internasional. Kecemburuan sosial melanda segenap lapisan masyarakat yang merasa terkena jepitan ekonomi. Fenomena ini terus berkembang dan meluas ke seluruh kerajaan Rusia.

Kondisi menyedihkan itu dimanfaatkan oleh unsur revolusioner yang tumbuh dari golongan terpelajar, golongan pekerja dan golongan lain yang merasakan pahit getirnya krisis ekonomi yang sedang terjadi. Ditambah lagi dengan ketidakpuasan terhadap sistem kerajaan yang bersifat menindas. Unsur-unsur revolusioner makin sering mengadakan kegiatan yang kelak bisa menyebar benih-benih partai Komunis Rusia. pihak Konspirasi Internasional mendapat
peluang emas untuk mengail ikan di air keruh, ketika pada tahun 1905 krisis itu mencapai puncaknya, dengan meletusnya perang antara Jepang dan Rusia. Perang merupakan pukulan paling telak dalam sejarah Rusia, sehingga kerajaan Rusia tidak bisa lagi berdiri dengan kedua kakinya.

Pada masa pemerintahan Czar Alexander III, pemerintah dan rakyat Rusia mengetahui secara global, bahwa sumber kekacauan dan kesulitan ekonomi yang dialami adalah akibat ulah tangan-tangan Yahudi yang terselubung. Gejala ini menimbulkan sikap benci terhadap unsur Yahudi sedemikian besarnya, seperti sikap orang Jerman dalam membenci unsur Yahudi, setelah
faham Karl Reiter tersebar luas di seluruh Jerman. Di pihak lain, orang Yahudi Eropa terus mengatur dan memberi dana kepada gerakan kerusuhan yang dirancang dari sarang perkumpulan Free Masonry di Perancis dan Inggris dan negara Eropa lainnya. Mereka sudah lama memimpikan sebuah negara nasional bangsa Yahudi. Dengan demikian, kalau terjadi tindak kekerasan sebagai balas dendam terhadap mereka dari bangsa Eropa, bagi mereka
tersedia tempat berlindung yang sekaligus bisa dijadikan pusat kegiatan yang bersifat internasional yang aman bagi Konspirasi internasional. Gerakan ini dipimpin oleh seorang Yahudi Jerman bernama Theodore Herzl, yang kelak berhasil mendirikan sebuah negara Zionis Israel.

Kelompok perusuh dari satu pihak dan kelompok revolusioner di pihak lain di Rusia mengadakan sejumlah pembunuhan politik dengan tujuan yang berbeda. Kelompok teroris berhasil membunuh Bogoliev, Menteri Pendidikan Rusia tahun 1901, karena dendam akibat disahkannya peraturan mengenai pendidikan yang terdapat dalam undang-undang Mei, yang membatasi jumlah anak Yahudi yang bisa diterima di sekolah umum Rusia. Kemudian menyusul
pembunuhan atas diri Despiagin, Menteri Dalam Negeri, juga karena adanya beberapa kata yang terdapat dalam undang-undang Mei, yang memperbolehkan orang Yahudi hidup dengan bebas hanya terbatas dalam ghetto-ghetto khusus bagi mereka. Berikutnya menyusul lagi pembunuhan terhadap Yogdanovich, gubernur Uka pada tahun 1903. Kemudian pembunuhan terhadap Vichiliev, Perdana Menteri Rusia tahun 1904, dan pembunuhan terhadap Prince Sergey, paman Czar sendiri. Pemberontakan 1905 kemudian berhasil ditumpas oleh jenderal Durbachiev, karena Konspirasi tidak mampu menghadapinya secara terbuka. Lalu mereka mencari jalan lain untuk membunuh dari belakang pada tahun berikutnya. Pembunuhan yang
terjadi beruntun, dan kekacauan yang berkepanjangan itu membuat Czar Alexander III marah besar. Ia mengeluarkan pernyataan dengan menunjuk hidung pihak Yahudi sebagai biang kerok kerusuhan, krisis ekonomi dan pembunuhan politik tersebut. Akan tetapi, golongan Komunis yang telah berhasil mendapat dukungan luas, dengan memakai nama partai Sosialis

Revolusioner merancang untuk membunuh Czar dengan membentuk kelompok teroris yang dipimpin oleh seorang pembunuh Yahudi berdarah dingin bernama Gishuin dan seorang lagi bernama Iveno Aziev. Kemudian dua orang ini mendapatkan satu orang lagi bernama Alexander Olianov untuk bekerja sama dalam rencana pembunuhan atas diri Czar Alexander III. Akan
tetapi, rencana jahat ini bisa digagalkan, dan Olianov ditangkap oleh pasukan keamanan, lalu diadili dan dihukum mati. Hal ini menyebabkan adik Olianov bernama Vladimir Olianov menjadi dendam. Ia lalu bergabung pada partai Sosialis Revolusioner. Vladimir inilah yang beberapa tahun kemudian dikenal dengan nama Lenin.

Revolusi Komunis tumbuh mekar pada saat situasi pemerintahan Czar sedang tenggelam dalam perang melawan pemberontakan dalam negeri, yaitu melawan gerakan kerusuhan yang diatur oleh orang Yahudi, dan juga perang melawan krisis sosial dan ekonomi, serta kekacauan yang juga ditimbulkan oleh tangan Yahudi Internasional. Pada saat mereka meniupkan perang antara
Rusia dan Jepang dengan tujuan untuk menghancurkan Rusia, mereka telah membuat program kerja. Secara diam-diam perusahaan Cohen-Lobe di Amerika mengirimkan dana besar-besaran kepada pemerintah Jepang.

Pengiriman dana besar-besaran kepada Rusia sesuai dengan program Konspirasi dihentikan seketika oleh lembaga keuangan Rothschild. Pada saat yang sama kelompok sabotase yang bekerja di bawah naungan kelompok Rothschild, khususnya para teknisi dalam jajaran militer yang tersebar di seluruh tempat strategis melakukan aksinya dengan memutuskan jalur
perbekalan militer dan logistik, khususnya jalur kereta api yang mengangkut perbekalan Rusia menuju Timur jauh. Akibatnya, pasukan Rusia porakporanda. Rencana ini benar-benar dilaksanakan dengan sempurna. Kali ini dunia terkejut untuk kesekian kalinya atas kekalahan sebuah kerajaan besar Rusia di hadapan pasukan Jepang yang kecil itu. Sejarah masih tetap bertanyatanya kebingungan mengenai sebab-sebab kekalahan yang tidak masuk akal itu.

Kemudian diadakan pembicaraan damai di kota Portsmouth Amerika Serikat tahun 1905. Utusan khusus telah menghubungi konglomerat Yahudi kelas internasional bernama Yacob Sheiff yang mewakili kelompok perusahaan Cohen-Lobe, yaitu yang mendukung dana kepada Jepang dalam perang melawan Rusia. Maksudnya ialah untuk minta penjelasan mengenai sebabsebab yang mendorong lembaga keuangan raksasa ini memihak Jepang dalam
perangnya melawan Rusia. Pertanyaan itu dijawab dengan surat yang isinya sebagai berikut :

"Anda tahu dan Anda adalah seorang ahli ekonomi dan politik. Tidak mungkin Anda akan mengharapkan, demi kepentingan dan pengaruh orang Yahudi Amerika, kecuali berbuat sesuatu untuk menentang pemerintah Rusia yang telah memerangi kepentingan keuangan orang Yahudi, dan tidak meluluskan tuntutan mereka, serta tidak menjamin hak mereka."

Kecaman Yacob Sheiff terhadap pemerintah Rusia tampak jelas sekali dalam jawabannya itu. Ia sendiri adalah orang yang bertanggungjawab mengenai dukungan dana kepada gerakan revolusioner dan kekacauan yang melanda Rusia sejak tahun 1887. Bantuan seperti itu terus mengalir hingga pecah revolusi Bolshevik tahun 1917. Peristiwa ini diungkap oleh berbagai mass
media internasional secara terbuka. Dan harian Figareau di Perancis memuat kasus itu dalam edisi 20 Februari 1932.

0 komentar: