Badr (2)

Oleh : Muhammad Husain Haekal

Keadaan Muslimin ternyata bertambah kuat setelah Muhammadmembangkitkan semangat mereka, turut hadir di tengah-tengahmereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh.Ia menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yangtelah teruji baik dan langsung terjun ke tengah-tengah musuh.Dalam hal ini kaum Muslimin mengarahkan perhatiannya padapemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Mereka hendakdikikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala merekadisiksa di Mekah dulu, dirintangi memasuki Mesjid Suci danberjuang untuk Allah. Bilal melihat Umayya b. Khalaf dananaknya, begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yangdikenalnya di Mekah dulu. Umayya ini adalah orang yang pernahmenyiksa Bilal dulu, ketika ia dibawanya ketengah-tengahpadang pasir yang paling panas di Mekah. Ditelentangkannya iadi tempat itu lalu ditindihkannya batu besar di dadanya,dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanyaberkata: "Ahad, Ahad.10 Yang Satu, Yang Satu." Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata: "Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!"



Beberapa orang dari kalangan Muslimin mengelilingi Umayyadengan tujuan jangan sampai ia terbunuh dan akan dibawanyasebagai tawanan. Tetapi Bilal di tengah-tengah orang banyak itu berteriaksekeras-kerasnya: "Sekalian tentara Tuhan! Ini Umayya b. Khalaf kepala kafir.Takkan selamat aku kalau ia lolos." Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi,dan Umayya dibunuhnya. Ketika itu Mu'adh b. 'Amr b. Jamuh jugadapat menewaskan Abu Jahl b. Hisyam. Kemudian Hamzah, Ali danpahlawan-pahlawan Islam yang lain menyerbu ke tengah-tengahpertempuran sengit itu. Mereka sudah lupa akan dirinyamasing-masing dan lupa pula akan jumlah kawan-kawannya yanghanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar. Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara.Kepala-kepala ketika itu sudah lepas berjatuhan dari tubuhQuraisy. Berkat iman yang teguh keadaan Muslimin bertambahkuat juga. Dengan gembira mereka berseru: Ahad, Ahad. Dihadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagaibantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yangmemberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambahteguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkatpedang dan mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tanganmereka digerakkan dengan tenaga Tuhan. Di tengah-tengah medan pertempuran yang sedang sibukdikunjungi malaikat maut memunguti leher orang-orang kafiritu, Muhammad berdiri. Diambilnya segenggam pasir,dihadapkannya kepada Quraisy. "Celakalah wajah-wajah merekaitu!" katanya sambil menaburkan pasir itu kearah mereka.Sahabat-sahabatnya lalu diberi komando:
"Serbu!"
BAGIAN KETIGABELAS: PERANG BADR1 Muhammad Husain Haekal Serentak pihak Muslimin menyerbu kedepan, masih dalam jumlahyang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudahpenuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagiyang membunuh musuh, sudah bukan mereka lagi yang menawantawanan perang. Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yangtertanam dalam jiwa mereka itu kekuatan moril merekabertambah, sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula.Dalam hal ini firman Allah turun: "Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Akubersama kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu.Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang kafiritu. Pukullah bagian atas leher mereka dan pukul pula setiapujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12) "Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allahjuga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan,sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhanjuga." (Qur'an, 8: 17) Tatkala Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNyadan setelah ternyata pula kemenangan berada di pihakorang-orang Islam, ia kembali ke pondoknya. Orang-orangQuraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang tidakterbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan. Inilah perang Badr, yang kemudian telah memberikan tempat yangstabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yangmerupakan suatu pendahuluan lahirnya persatuan seluruhsemenanjung di bawah naungan Islam, juga sebagai suatupendahuluan adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luassekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar di dunia,yang sampai sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruhyang dalam di dalam jantung kehidupan dunia. Bukan tidak mungkin orang akan merasa kagum sekali bilamengetahui, bahwa, meskipun Muhammad sudah begitu mengerahkansahabat-sahabatnya dan mengharapkan terkikisnya musuh Tuhandan musuhnya itu, namun sejak semula terjadinya pertempuran iasudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh Banu Hasyimdan tidak membunuh orang-orang tertentu dari kalanganpembesar-pembesar Quraisy, sekalipun pada dasarnya mereka akanmembunuh setiap orang dari pihak Islam yang dapat merekabunuh. Dan jangan pula orang mengira, bahwa ia berbuat begitukarena ia mau membela keluarganya atau siapa saja yang punyapertalian keluarga dengan dia. Jiwa Muhammad jauh lebih besardaripada akan terpengaruh oleh hal-hal serupa itu. Apa yangmenjadi pertimbangannya ialah, ia masih ingat Banu Hasyim duluyang telah berusaha melindunginya selama tigabelas tahun sejakmula masa kerasulannya hingga masa hijrahnya, sampai-sampaiAbbas pamannya ikut menyertainya pada malam diadakan ikrar'Aqaba. Juga jasa orang lain yang masih kafir di kalanganQuraisy di luar Banu Hasyim yang menuntut dibatalkannya piagampemboikotan, yang oleh Quraisy dia dan sahabat-sahabatnyadipaksa tinggal di celah-celah gunung, setelah semua hubunganoleh mereka itu diputuskan. Segala kebaikan yang telahdiberikan oleh mereka masing-masing oleh Muhammad dianggapsebagai suatu jasa yang harus mendapat balasan setimpal, harusmendapat balasan sepuluh kali lipat. Oleh karena itu olehMuslimin ia dianggap sebagai perantara bagi merekamasing-masing selama terjadi pertempuran, meskipun di kalanganQuraisy sendiri masih ada yang menolak pemberian pengampunanitu seperti yang dilakukan oleh Abu'l-Bakhtari - salah seorangyang ikut melaksanakan dicabutnya piagam. Ia menolak danterbunuh. Dengan perasaan dongkol penduduk Mekah lari tunggang langgang.Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata merekatertumbuk pada salah seorang kawan sendiri, karena rasamalunya ia segera membuang muka, mengingat nasib buruk yangtelah menimpa mereka semua. Sampai sore itu pihak Muslimin masih tinggal di Badr. Kemudianmayat-mayat Quraisy itu mereka kumpulkan dan setelah dibuatkansebuah perigi besar mereka semua dikuburkan. Malam harinyaMuhammad dan sahabat-sahabatnya sibuk di garis depanmenyelesaikan barang-barang rampasan perang serta berjaga-jagaterhadap orang-orang tawanan. Tatkala malam sudah gelapMuhammad mulai merenungkan pertolongan yang diberikan Tuhankepada Muslimin yang dengan jumlah yang begitu kecil telahdapat menghancurkan kaum musyrik yang tidak mempunyai perisaikekuatan iman selain membanggakan jumlah besarnya saja. Dalamia merenungkan hal ini, pada waktu larut malam itusahabat-sahabatnya mendengar ia berkata: "Wahai penghuni perigi! Wahai 'Utba b. Rabi'a! Syaiba b.Rabi'a! Umayya b. Khalaf! Wahai Abu Jahl b. Hisyam! ..." -Seterusnya ia menyebutkan nama orang-orang yang dalam perigiitu satu satu. "Wahai penghuni perigi! Adakah yang dijanjikantuhanmu itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengan apa yangtelah dijanjikan Tuhanku." "Rasulullah, kenapa bicara dengan orang-orang yang sudahbangar?" kata kaum Muslimim kemudian bertanya. "Apa yang saya katakan mereka lebih mendengar daripada kamu,"jawab Rasul. "Tetapi mereka tidak dapat menjawab." Ketika itu Rasulullah melihat ke dalam wajah Abu Hudhaifa ibn'Utba. Ia tampak sedih dan mukanya berubah. "Barangkali ada sesuatu dalam hatimu mengenai ayahmu, AbuHudhaifa"? tanyanya. "Sekali-kali tidak, Rasulullah," jawab Abu Hudhaifa. "Tentangayah, saya tidak sangsi lagi, juga tentang kematiannya. Hanyasaja yang saya ketahui pikirannya baik, bijaksana dan berjasa.Jadi saya harapkan sekali ia akan mendapat petunjuk menjadiseorang Islam. Tetapi sesudah saya lihat apa yang teriadi, danteringat pula hidupnya dulu dalam kekafiran, sesudah makinjauh apa yang saya harapkan dari dia, itulah yang membuat sayasedih." Tetapi Rasulullah menyebutkan yang baik tentang dia sertamendoakan kebaikan baginya. Keesokan harinya pagi-pagi, bila Muslimin sudah siap-siap akanberangkat pulang menuju Medinah, mulailah timbul pertanyaansekitar masalah harta rampasan, buat siapa seharusnya. Katamereka yang melakukan serangan: kami yang mengumpulkannya;jadi itu buat kami. Lalu kata yang mengejar musuh sampai padawaktu mereka mengalami kehancuran kalau tidak karena kami,kamu tidak akan mendapatkannya. Dan kata mereka yang mengawalMuhammad karena kuatir akan diserang musuh dari belakang: kamusekalian tak ada yang lebih berhak dari kami. Sebenarnya kamidapat memerangi musuh dan mengambil harta mereka, ketika takada suatu pihakpun yang akan melindungi mereka. Tetapi kamikuatir adanya serangan musuh kepada Rasulullah. Oleh karenaitu kami lalu menjaganya. Tetapi kemudian Muhammad menyuruh mengembalikan semua hartarampasan yang ada ditangan mereka itu, dan dimintanya supayadibawa agar ia dapat memberikan pendapat atau akan adaketentuan Tuhan yang akan menjadi keputusan. Muhammad mengutus Abdullah b. Rawaha dan Zaid b. Haritha keMedinah guna menyampaikan berita gembira kepada penduduktentang kemenangan yang telah dicapai kaum Muslimin. Sedangdia sendiri dengan sahabat-sahabatnya berangkat pula menujuMedinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang telahdiperolehnya dari kaum musyrik, dan diserahkan pimpinannyakepada Abdullah b. Ka'b. Mereka berangkat. Sesudah menyeberangi selat Shafra', padasebuah bukit pasir Muhammad berhenti. Di tempat ini rampasanperang yang sudah ditentukan Allah bagi Muslimin itu dibagirata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, bahwa pembagian kepadamereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firmanAllah: "Dan hendaklah kamu ketahui, bahwa rampasan perang yang kamuperoleh, seperlimanya untuk Tuhan, untuk Rasul, untuk parakerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yangterlantar dalam perjalanan, kalau kamu benar-benar berimankepada Allah dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kamipada hari yang menentukan itu, hari, ketika dua golongan itusaling berhadapan. Dan atas segala sesuatu Allah Maha Kuasa."(Qur'an, 8: 41) Sebahagian besar penulis-penulis sejarah Nabi berpendapat,terutama angkatan lamanya - bahwa ayat tersebut turun sesudahperistiwa Badr dan sesudah rampasan perang dibagi, dan bahwaMuhammad membaginya secara merata di kalangan Muslimin, danbahwa untuk kuda disamakannya dengan apa yang ada padapenunggangnya, bagian mereka yang gugur di Badr diberikankepada ahli warisnya, mereka yang tinggal di Medinah dan tidakikut ke Badr karena bertugas mengurus keperluan Muslimin, danmereka yang dikerahkan berangkat ke Badr tapi tertinggal dibelakang karena sesuatu alasan yang dapat diterima oleh Rasul,juga mendapat bagian. Dengan demikian rampasan perang itudibagi secara adil. Yang ikut bersama dalam perang danmendapat kemenangan bukan hanya yang bertempur saja, melainkanyang ikut bersama-sama dalam perang dan mendapat kemenanganitu ialah siapa saja yang ikut bekerja kearah itu, baik yangdi garis depan atau yang jauh dari sana. Sementara kaum Muslimin dalam perjalanan ke Medinah itu, duaorang tawanan telah mati terbunuh, yakni seorang bernama Nadzrbin'l-Harith dan yang seorang lagi bernama 'Uqba b. AbiMu'ait. Sampai pada waktu itu baik Muhammad atausahabat-sahabatnya belum lagi membuat suatu peraturan tertentudalam menghadapi para tawanan itu yang akan mengharuskanmereka dibunuh, ditebus atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan'Uqba ini keduanya merupakan bahaya yang selalu mengancamMuslimin selama di Mekah dulu. Setiap ada kesempatan keduaorang ini selalu mengganggu mereka. Terbunuhnya Nadzr ini ialah tatkala mereka sampai di Uthailpara tawanan itu diperlihatkan kepada Nabi a.s. DitatapnyaNadzr ini dengan pandangan mata yang demikian rupa, sehinggatawanan ini gemetar seraya berkata kepada seseorang yangberada di sampingnya: "Muhammad pasti akan membunuh aku," katanya. "Ia menatapkudengan pandangan mata yang mengandung maut." "Ini hanya karena kau merasa takut saja," jawab orang yang disebelahnya. Sekarang Nadzr berkata kepada Mushiab b. 'Umair - orang yangpaling banyak punya rasa belas-kasihan di tempat itu. "Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salahseorang sahabatnya. Kalau ini tidak kaulakukan pasti dia akanmembunuh aku." "Tetapi dulu kau mengatakan begini dan begitu tentangKitabullah dan tentang diri Nabi," kata Mushiab. "Dulu kaumenyiksa sahabat-sahabatnya." "Sekiranya engkau yang ditawan oleh Quraisy, kau takkandibunuh selama aku masih hidup," kata Nadzr lagi. "Engkau tak dapat dipercaya," kata Mush'ab. "Dan lagi akutidak seperti engkau. Janji Islam dengan kau sudah terputus." Sebenarnya Nadzr adalah tawanan Miqdad, yang dalam hal ini iaingin memperoleh tebusan
BAGIAN KETIGABELAS: PERANG BADR1 Muhammad Husain Haekal Contohnya lagi di kalangan para nabi seperti Isa tatkala iaberkata: "Kalaupun mereka Engkau siksa, mereka itu semua hambaMu; dankalau Engkau ampuni, Engkau Maha Kuasa dan Bijaksana."(Qur'an, 5: 118) Sedang Umar, dalam malaikat contohnya seperti Jibril,diturunkan membawa kemurkaan dari Tuhan dan bencana terhadapmusuh-musuhNya. Di lingkungan para nabi ia seperti Nuh tatkalaberkata: "Tuhan, jangan biarkan orang-orang yang ingkar itu punyatempat-tinggal di muka bumi ini." (Qur'an, 71: 26) Atau seperti Musa bila ia berkata: "O Tuhan! Binasakanlah harta-benda mereka itu, dan tutuplahhati mereka. Mereka takkan percaya sebelum siksa yang pedihmereka rasakan." (Qur'an, 10: 88) Kemudian katanya: "Kamu semua mempunyai tanggungan. Jangan ada yang lolos merekaitu, harus dengan ditebus atau dipenggal lehernya." Lalu mereka berunding lagi dengan sesamanya. Di antara merekaitu ada seorang penyair, yaitu Abu 'Azza 'Amr b. Abdullah b.'Umair al-Jumahi. Melihat adanya pertentangan pendapat itucepat-cepat ia mau menyelamatkan diri. "Muhammad," katanya, "Saya punya lima anak perempuan danmereka tidak punya apa-apa. Maka sedekahkan sajalah aku inikepada mereka. Aku berjanji dan memberikan jaminan, bahwa akutidak akan memerangi kau lagi, juga sama sekali aku tidak akanmemaki-maki kau lagi." Orang ini mendapat jaminan Nabi dan dibebaskan tanpa membayaruang tebusan. Hanya dialah satu-satunya tawanan yang berhasilmendapat jaminan demikian. Tetapi kemudian ia memungkirijanjinya, dan kembali ia setahun kemudian ikut berperang diUhud. Ia kena tawan lagi lalu terbunuh. Pihak Muslimin, sesudah lama berunding akhirnya memutuskan,bahwa mereka dapat mengabulkan cara penebusan itu. Dengandikabulkannya itu ayat ini turun. "Tidak sepatutnya seorang nabi itu akan mempunyaitawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia.Kamu menghendaki harta-benda dunia, sedang Allah menghendakiakhirat. Allah Maha Kuasa dan Bijaksana." (Qur'an, 8: 67) Menanggapi masalah tawanan-tawanan Badr ini serta terbunuhnyaNadzr dan 'Uqba ada beberapa orang Orientalis yang masihbertanya-tanya: bukankah dengan demikian ini sudah membuktikanbahwa agama baru ini sangat haus darah? Kalau tidak tentukedua orang itu tidak akan dibunuh. Bukankah sesudah mendapatkemenangan dalam pertempuran akan lebih terhormat bagi kaumMuslimin jika mengembalikan saja para tawanan itu, dan merekasudah cukup memperoleh rampasan perang? Maksudnya dengan pertanyaan ini ialah hendak membangkitkanrasa simpati dalam hati orang yang selama itu belum menjadimasalah, supaya seribu tahun kemudian sesudah perang Badr danpeperangan-peperangan yang terjadi berikutnya akan dijadikanalat untuk mendiskreditkan agama ini serta pembawany a Tetapi ternyata pertanyaan semacam ini kemudian jadi gugursendiri apabila terbunuhnya Nadzr dan 'Uqba ini kitabandingkan dengan apa yang terjadi dewasa ini dan akan selaluterjadi, selama perabadan Barat, yang memakai jubah Kristenitu masih tetap menguasai dunia. Terhadap apa yang telahterjadi di negara-negara yang dikuasai oleh penjajah secarapaksa atas nama hendak memadamkan pemberontakan itu, dapatkahperistiwa di atas tadi - sedikit saja - dijadikanperbandingan? Dapatkah hal itu - sedikit saja - kitabandingkan dengan penyembelihan yang terjadi dalam PerangDunia? Selanjutnya, dapatkah peristiwa itu kita bandingkanpula - sedikit saja - dengan apa yang telah terjadi selamaRevolusi Perancis, dalam pelbagai revolusi yang pernah terjadidan akan selalu terjadi pada bangsa-bangsa Eropa lainnya? Memang sudah tak dapat disangkal bahwa apa yang dialamiMuhammad dan sahabat-sahabatnya itu adalah suatu revolusi yangdahsyat dan Muhammad yang diutus Tuhan, berhadapan denganpaganisma dan orang-orang musyrik sebagai penyembahnya. Suaturevolusi, yang pada mulanya berkecamuk di Mekah, dan yang olehkarenanya, berbagai macam siksaan dan penderitaan dialami olehMuhammad dan sahabat-sahabatnya selama tigabelas tahunterus-menerus. Kemudian kaum Muslimin pindah ke Medinah. Ditempat ini mereka nengumpulkan tenaga dan kekuatan. Sementaraitu benih-benih revolusi masih terus tumbuh dalam hati mereka,juga dalam hati semua orang Quraisy. Pindahnya Muslimin ke Medinah, perjanjian mereka denganorang-orang Yahudi setempat, terjadinya benterokan-benterokansebelum peristiwa Badr, lalu Perang Badr itu sendiri - semuaitu adalah suatu siasat revolusi, bukan prinsip. Kebijaksanaanyang telah ditentukan oleh pemimpin revolusi dansahabat-sahabatnya itu akan disusul pula oleh adanya ketentuanprinsip-prinsip yang luhur, yang telah dibawa oleh Rasul.Jadi, siasat revolusi itu lain dan prinsip-prinsip revolusilain lagi. Juga kondisi yang terjadi berikutnya kadang samasekali berbeda dari tujuan pokok kondisi itu. Dalam hal Islamtelah menjadikan rasa persaudaraan sebagai dasar peradabanIslam, maka untuk mencapai sukses jalan itu harus ditempuh,sekalipun untuk itu harus berlaku suatu kekerasan kalau memangsudah tak dapat dihindarkan lagi. Tindakan kaum Muslimin terhadap tawanan-tawanan perang Badradalah suatu teladan yang baik dan penuh kasih-sayang,dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam beberapa revolusiyang oleh pencetusnya diagungkan dengan arti keadilan dankasih-sayang. Dan inipun merupakan satu bagian saja di sampingpenyembelihan-penyembelihan yang banyak terjadi atas namaKristus, seperti penyembelihan Saint Bartholomew (SaintBarthelemy), suatu peristiwa penyembelihan yang dapat dianggapsebagai suatu aib besar dalam sejarah Kristen, yang dalamsejarah Islam contoh semacam itu samasekali tidak pernah ada.Penyembelihan ini diatur pada waktu malam. Orang-orang Katolikdi Paris membantai orang-orang Protestan dengan jalantipu-muslihat dan penghkianatan, suatu gambaran tipu-muslihatdan penghianatan yang sungguh rendah dan kotor. Jadi kalau dua orang saja dari lima puluh tawanan Badr ituyang dibunuh oleh Muslimin, karena mereka selama tiga belastahun memang begitu kejam terhadap kaum Muslimin, yang sampaimenderita pelbagai macam siksaan selama di Mekah, itupunkarena adanya sikap kasihan yang berlebih-lebihan dan dianggapsebagai suatu keuntungan yang terlalu pagi seperti disebutkandalam ayat: "Tidak sepatutnya seorang nabi itu akan mempunyaitawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia.Kamu menghendaki kekayaan duniawi, sedang Allah menghendakiakhirat. Allah Maha Kuasa dan Bijaksana." (Qur'an, 8: 67) Sementara orang-orang Islam sedang bersukaria karena dengananugerah Tuhan mereka mendapat kemenangan berikut hartarampasan, Haisuman b. Abdullah al-Khuza'i secara tergesa-gesasekali berangkat pula menuju Mekah. Dia menjadi orang yamgpertama masuk di Mekah dan memberitahukan penduduk mengenaihancurnya pasukan Quraisy serta bencana yang telah menimpapembesar-pembesar, pemimpin-pemimpin dan bangsawan-bangsawanmereka. Pada mulanya Mekah terkejut sekali, dan tidakmempercayai berita itu. Betapa takkan terkejut mendengarberita kehancuran itu serta terbunuhnya pemimpin-pemimpin danbangsawan-bangsawan mereka! Tetapi tampaknya Haisuman memangtidak mengigau, diyakinkannya sekali apa yang dikatakannya.Dari pihak Quraisy dia sendiri memang yang merasa palingterpukul dengan bencana itu. Setelah ternyata berita kejadian tersebut memang benar,seolah-olah mereka tersungkur jatuh pingsan. Abu Lahab jatuhdemam, dan tujuh hari kemudian iapun meninggal. Sekarangorang-orang mengadakan perundingan, apa yang harus merekalakukan. Kemudian dicapai kata sepakat untuk tidak menyatakanduka-cita atas kematian mereka, sebab apabila nanti initerdengar oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya, mereka akandiejek. Juga tidak akan mengrim orang untuk menebus paratawanan itu, supaya jangan sampai Muhammad dansahabat-sahabatnya nanti memperketat mereka dan memintatebusan yang terlampau tinggi. Haripun berjalan juga. Orang-orang Quraisy sedang menahan hatimengalami cobaan itu sambil menunggu kesempatan sampai dapattawanan-tawanan mereka itu nanti tertebus. Hari itu yang datang adalah Mikraz b. Hafz, hendak menebusSuhail b. 'Amr. Rupanya Umar bin'l-Khattab keberatan kalauorang itu bebas tanpa mendapat sesuatu gangguan. Maka lalu iaberkata: "Rasulullah. Ijinkan saya mencabut dua gigi seri Suhail b.'Amr ini, supaya lidahnya menjulur keluar dan tidak lagiberpidato mencercamu di mana-mana." Tapi ini dijawab oleh Nabi dengan suatu jawaban yang sungguhagung: "Aku tidak akan memperlakukannya secara kasar, supaya Tuhantidak memperlakukan aku demikian, sekalipun aku seorang nabi." Zainab puteri Nabi juga lalu mengirimkan tebusan hendakmembebaskan suaminya, Abu'l-'Ash b. Rabi'. Diantara yangdipakai penebus itu ialah sebentuk kalung pemberian Khadijahketika dulu ia akan dikawinkan dengan Abu'l-'Ash. Melihat kalung itu, Nabi merasa sangat terharu sekali "Kalau tuan-tuan hendak melepaskan seorang tawanan danmengembalikan barang tebusannya kepada sipemilik, silakansaja," kata Nabi. Kemudian ia mendapat kata sepakat dengan Abu'l-'Ash untukmenceraikan Zainab, yang menurut hukum Islam mereka sudahbercerai. Dalam pada itu Muhammad mengutus Zaid b. Haritha danseorang sahabat lagi guna menjemput Zainab dan membawanya keMedinah. Akan tetapi sesudah sekian lama Abu'l-'Ash dibebaskan sebagaitawanan, ia berangkat ke Syam membawa barang dagangan Quraisy.Sesampainya di dekat Medinah, ia bertemu dengan satuanMuslimin. Barang-barang bawaannya mereka ambil. Ia meneruskanperjalanan dalam gelap malam itu hingga ke tempat Zainab. Iaminta perlindungan dari Zainab dan Zainabpun melindunginyapula. Ketika itu barang-barang dagangannya dikembalikan olehMuslimin kepadanya dan dengan aman ia kembali ke Mekah.Setelah barang-barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknyamasing-masing dari kalangan Quraisy, ia berkata: "Masyarakat Quraisy! masih adakah dari kamu yang belummengambil barangnya?" "Tidak ada," jawab mereka. "Mudah-mudahan Tuhan membalaskebaikanmu. Engkau ternyata orang yang jujur dan murah hati." "Saya naik saksi," katanya lagi kemudian, "bahwa tak ada tuhanselain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.Sebenarnya saya dapat saja masuk Islam di kotanya itu, tapisaya kuatir tuan-tuan akan menduga, bahwa saya hanya inginmakan harta tuan-tuan ini. Setelah semua ini saya kembalikankepada tuan-tuan dan tugas saya selesai, maka sekarang sayamasuk Islam." Kemudian ia kembali ke Medinah. Zainab juga oleh Nabidikembalikan lagi kepadanya. Dalam pada itu pihak Quraisy terus saja menebus tawanannya.Nilai tebusan waktu itu berkisar antara seribu sampai empatribu dirham untuk tiap orang. Kecuali yang tidak punya apa-apadengan kemurahan hati Muhammad membebaskannya. Rasanya tidak ringan nasib yang menimpa Quraisy itu, jugamereka tidak mau menghentikan permusuhan dengan Muhammad ataumelupakan kekalahan yang mereka alami. Bahkan sesudah itukemudian wanita-wanita Quraisy itu ramai-ramai selama sebulanpenuh menangisi mayat mereka. Rambut kepala mereka sendirimereka gunting. Kendaraan atau kuda orang yang sudah mati itudibawa, lalu mereka menangis mengelilinginya. Dalam hal ini tak ada yang ketinggalan, kecuali Hindun bt.'Utba, isteri Abu Sufyan.

Ketika pada suatu hari ia didatangioleh wanita-wanita dengan mengatakan: "Kau tidak menangisiayahmu, saudaramu, pamanmu dan keluargamu?" Ia menjawab: "Aku menangisi mereka? Supaya kalau nanti didengar olehMuhammad dan teman-temannya mereka menyoraki kita? Danwanita-wanita Khazraj juga akan menyoraki kita? Tidak! Akumesti menuntut balas kepada Muhammad dan teman-temannya! Haramkita memakai minyak sebelum dapat kita memerangi Muhammad.Sungguh, kalau aku dapat mengetahui, bahwa kesedihan itu bisahilang dari hatiku, tentu aku menangis. Tetapi ini baru akanhilang kalau mangsaku yang membunuh orang-orang yang kucintaiitu sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri!" Memang, ia tidak lagi memakai minyak atau mendekatitempat-tidur Abu Sufyan. Ia terus mengerahkan orang sampaipada waktu pecah perang Uhud. Sedang Abu Sufyan, sesudahperistiwa Badr, ia bernazar tidak akan bersuci kepala denganair sebelum ia memerangi Muhammad.

Catatan kaki:

1 Pada umumnya istilah ghazwa dan sarinya, dibedakan dengan pengertian, bahwa ghazwa (jamak ghazawat), pasukan yang bergerak bersama-sama dengan Nabi, sedang sariya (jamak saraya) pasukan yang bergerak tanpa Nabi ikut serta. Kata ghazwa pada umumnya diterjemahkan dengan perang. Dalam terjemahan ini dipergunakan tiga pengertian: perang ekspedisi dan razzia atau pembersihan. Buku yang lebih khusus membicarakan strategi perang antara lain: Mayor Muh. Abd'l-Fattah Ibrahim, Muhammad al-Qa'id, Cairo 1945/1964; Muhammad Hamidullah, The Battlefields of the Prophet Muhammad, Working, England, 1952, 1953; Jenderal Mahmud Syait Khattab Ar-Rasul'l-Qa'id, Cairo, 1964. Badr adalah sebuah desa di barat daya Medinah, sebuah pangkalan air terkenal yang terletak antara Medinah dan Mekah, tak seberapa jauh dari pantai Laut Merah (A).

2 Al-Haura, sebuah distrik di sebelah Mesir pada akhir perbatasan dengan Hijaz di Laut Merah, yang merupakan pelabuhan kapal-kapal Mesir ke Medinah. Cf. Jenderal Mahmud Syeit Khattab, ar-Rasul'l-Qa'id, hal. 90 (A).

3 Julukan Umayya b. Khalaf (A).

4 Ihda't-ta'ifatain, harfiah, salah satu dari dua kelompok. Dua kelompok ialah kafilah Quraisy yang datang dari Suria membawa harta dagangan yang besar, terdiri dari 40 orang tak bersenjata di bawah pimpinan Abu Sufyan. 2) Angkatan bersenjata Quraisy terdiri dan 1000 orang dengan perenjataan lengkap datang dan Mekah di bawah pimpinan Abu Jahl. (A).

5 'Udwa 'tepi wadi' (LA). Al-'udwat'l-qashwa 'tepi wadi yang lebih dekat ke arah Mekah' sebaliknya daripada 'al-'udwat'd-dunya' 'tepi wadi yang lebih dekat ke arah Medinah' (L4) (A)

6 Qur'an, 8: 7. (Lihat juga catatan bahwa halaman 268) (A).

7 Aslinya "Ya Nabiullah" (A).

8 Maksudnya 'Amr bin'l-Hadzami yang tewas dalam bentrokan dengan satuan Abdullah b. Jahsy (A).

9 "Demi Allah" (A).

10 Suatu pernyataan Tauhid (A).

11 Manaha harfiah berarti 'tempat wanita-wanita menangisi mayat' (LA). (A).

0 komentar: