Yahudi Menggenggam Dunia (27)

Oleh : William G. Carr
Penterjemah : Musthalah Maufur MA



Perang dan Layar Politik
Perdana Menteri Inggris pada saat meletusnya Perang Dunia I adalah Herbert Henry Asquith. Ia adalah seorang politikus Inggris moderat yang disegani, lantaran kebijakan politiknya yang ditujukan untuk kepentingan nasional kerajaan Inggris. Ia terkenal sebagai Perdana Menteri Inggris yang sangat memusuhi gerakan Zionisme. Oleh sebab itu, Konspirasi bertekad untuk
menumbangkannya, dan menggantinya dengan pasangan tiga serangkai, terdiri dari tokoh-tokoh loyal kepada organisasi Zionisme. Mereka adalah David Lloyd George, Arthur Balfour dan Winston Churchill. Namun untuk menumbangkan pemerintahan Asquith ternyata tidak mudah. Inggris masih berada dalam keadaan perang, sehingga tidak ada kesempatan yang tepat
untuk mengadakan manuver politik secara wajar. Di samping itu, mengganti kabinet di saat perang akan menimbulkan benturan keras, dan mencemarkan opini umum Inggris yang punya semboyan "Do not change your horse during the war" (jangan mengganti kudamu di saat perang). pihak Konspirasi tidak hanya bertujuan mengganti Asquith beserta pemerintahannya, melainkan mengganti badan-badan terpenting dalam struktur negara secara menyeluruh. Ini berarti menghancurkan struktur lama dan menggantinya dengan struktur baru.



Roda Konspirasi berputar pelan penuh kewaspadaan. Gerakan di bawah tanah diberitahu untuk menghancurkan struktur pemerintahan dan sosial yang ada, sesuai dengan program yang diinstruksikan oleh Kekuatan Terselubung. Mereka merintis jalan untuk mengantar Churchill, Balfour dan Lloyd George menduduki tampuk kekuasaan. Senjata yang mereka pakai adalah sama, seperti yang dipakai dalam rancangan revolusi Perancis dan Rusia, yaitu serangan propaganda yang luas, dan skandal gosip serta demoralisasi besarbesaran.


Rencana ini dilaksanakan dengan sangat hati-hati, sesaat setelah pecahnya perang, agar tidak mengundang perhatian. Seorang agen Konspirasi yang merupakan salah seorang milyuner Inggris menyewa gedung besar di suatu daerah pinggiran London. Gedung ini dengan biaya besar diubah menjadi sebuah klub mewah dan megah yang menimbulkan kesan aristokratik.
Penanggungjawab klub tersebut bisa meyakinkan para pejabat kerajaan, bahwa klub itu didirikan dengan tujuan mengungkapkan salah satu bentuk patriotisme, dan sebagai penghargaan yang dipersembahkan kepada para perwira angkatan bersenjata dari medan tempur, ketika mereka datang ke London untuk berlibur dan beristirahat. Pemerintah tidak segan lagi memberi dukungan dan fasilitas atas usaha 'mulia' seperti itu. Akan tetapi, dibalik itu
semua, yang semula dikatakan bahwa anggota klub hanyalah para perwira tinggi, berkembang menjadi terbatas pada orang-orang penting dengan lebih dulu disumpah dan diketahui identitas pribadinya, sebagai syarat untuk menjadi anggota.

Adapun kehidupan yang beredar dalam klub berkisar pada masalah minuman keras, wanita dan perjudian dengan segala bentuk kemaksiatan bagi kalangan atas masyarakat Inggris. Para pengelola klub berhasil menjaring sejumlah besar wanita dan gadis-gadis kelas atas ke dalam klub dengan berbagai cara. Pada suatu senja di bulan November 1916 terjadi suatu peristiwa yang unik. Seorang menteri pemerintah Inggris mendapat surat yang isinya memohon, agar ia
berkenan menghadiri sebuah acara yang akan diadakan oleh klub itu. Sang menteri memenuhi undangan itu dengan mobil khusus. Sopirnya disuruh menunggu di luar. Seorang penyambut mengantarnya masuk ke dalam, dan tibalah ia di sebuah ruangan remang-remang. Ia ditinggal sendirian oleh penyambutnya. Sesaat kemudian datanglah seorang wanita muda dengan
busana sangat minim yang segera menggandeng sang menteri. Betapa terkejut wanita itu setelah tahu, bahwa yang digandeng itu adalah suaminya sendiri.

Sementara itu, sang menteri juga sangat terkejut dan marah bukan kepalang. Seorang pengawas klub segera mendatangi sang menteri dan memperlihatkan daftar hitam mengenai istrinya, bahwa istrinya telah lama bergabung dalam klub itu. Sang istri pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berusaha menutupi aib keluarganya dengan meninggalkan tempat itu dengan penuh kecewa. Sang menteri baru menyadari, bahwa klub itu tidak lain adalah perangkap yang
sengaja dipasang oleh kekuatan terselubung. Daftar hitam itu adalah kumpulan data milik klub dari anggota pria maupun wanita, usaha terselubung dari Konspirasi. Tidak jarang hal-hal semacam itu sengaja diangkat dalam media massa, disertai komentar provokatif, sehingga opini umum segera menyebar luas mengenai kebobrokan kalangan atas di pemerintahan. Sementara itu Inggris masih terlibat dalam perang besar yang mengorbankan ribuan putraputranya.

Pada bulan November 1916 seorang anggota parlemen mengucapkan pidato dengan mengecam keras dan terbuka masalah klub ini. Ia menuntut agar pemerintah segera mengambil langkah penyelidikan secara tuntas. Ia mendapat informasi lengkap tentang kegiatan klub itu dari tiga orang perwira angkatan darat Inggris, yang sebelumnya pernah mendukung berdirinya klub itu, setelah mempertimbangkan tujuan baik yang tercantum dalam proposal. Ketiga perwira tergiur dan akhirnya terperangkap di dalamnya tanpa sadar. Data-data mengenai belang mereka telah tercatat oleh para pengawas klub. pihak klub juga berusaha menggali informasi tentang rahasia militer dari ketiga perwira dengan cara pemerasan. Namun mereka bertiga tetap tidak menyerah setelah yakin, bahwa klub itu merupakan sarang mata-mata musuh. Selain itu, ketiga
perwira tersebut juga memberitahukan kepada anggota parlemen itu, bahwa di sana terdapat seorang wanita terkenal dari Australia yang tidak disebutkan namanya, beserta seorang sopir dari London, sejumlah istri dan gadis-gadis anak beberapa tokoh politik dan pemerintah, yang terlibat sebagai anggota klub. pihak pemerintah tidak segera bisa menjernihkan masalah, karena negara dalam keadaan perang. Apalagi beberapa catatan hitam telah sempat bocor ke
dalam parlemen, dan beberapa surat kabar telah memuat berita hangat tentang skandal yang melibatkan beberapa tokoh politik, sehingga membentuk opini umum yang luas. Tidak lama kemudian media massa yang dikuasai oleh Konspirasi mulai menyerang pemerintah Asquith dan berbagai kementeriannya, dengan memuat nama mereka yang dilingkari dengan tanda
tanya besar mengarah kepada tuduhan. Pribadi Asquith pun tidak luput dari serangan tuduhan. Ia dituduh punya hubungan lama dengan beberapa penguasa Jerman, pada masa sebelum perang, di samping memberi dukungan kepada Kaisar Jerman Guillaume. Sementara itu, gerakan bawah tanah menyebar data-data dan dokumen dari daftar hitam tentang kebejatan moral para tokoh politik dan pemerintahan Asquith yang telah terjaring dalam klub.

Tujuannya tentu saja untuk membentuk opini umum, persis seperti yang terjadi menjelang revolusi Perancis. Posisi Asquith dan pemerintahannya makin terjepit. Tak ada jalan lain baginya, kecuali mengundurkan diri bersama pemerintahan kabinetnya hanya sebulan berselang, setelah berita skandal moral diangkat ke atas permukaan, tepatnya pada bulan Desember 1916. Kemudian Asquith digantikan oleh pemerintahan tiga serangkai, yaitu Lloyd
George sebagai perdana menteri, Balfour sebagai menteri luar negeri, dan Churchill sebagai menteri pertahanan.

Data seperti di atas juga dialami oleh penulis buku ini (Admiral William Guy Karr), yang ia sendiri adalah salah satu agen rahasia Inggris berpangkat admiral yang memiliki pengalaman khusus dalam dunia rahasia. Ia mengatakan :

"Aku pernah bertugas dalam berbagai operasi sebagai perwira agen rahasia selama perang Dunia I. Aku merasa berkewajiban untuk mengatakan hakikat yang sebenarnya tentang ekor peristiwa menyedihkan yang menimpa ketiga perwira angkatan bersenjata Inggris tadi. Aku sangat terkejut dan hampir tidak percaya, ketika aku mendapat sebuah laporan mengenai klub itu dan keterlibatan ketiga perwira tersebut dalam sebuah pertikaian tajam. Mereka bertiga telah dicantumkan dalam catatan militer Inggris, bahwa mereka bertiga telah terbunuh dalam sebuah operasi militer, sedang wanita Australia tadi bersama sopirnya ditangkap dan ditahan selama masa perang. Ia dikeluarkan setelah perang usai tanpa diajukan ke pengadilan, dengan dalih berdasarkan undangundang darurat perang kerajaan. Anggota parlemen yang telah membeberkan rahasia skandal itu tiba-tiba menghilang dari arena politik tanpa meninggalkan
alasan sedikit pun. Datanglah giliranku pribadi, setelah aku bisa mengetahui secara mendalam tentang rahasia itu. Aku ditugaskan oleh pemerintah Lloyd George dalam operasi militer di kapal selam. Dengan kata lain, aku dimutasikan dari dinas inteligen ke bidang persenjataan kapal selam pada jajaran angkatan laut Inggris. Selama operasi, kami kehilangan 33% perwira yang bertugas. Aku termasuk salah satu orang yang selamat, berkat keajaiban belaka."

Dari pengalaman penulis buku ini sendiri tampak jelas, bagaimana kebijakan yang ditempuh oleh pemerintahan tiga serangkai di Inggris waktu itu, dalam usahanya membunuh orang-orang yang dianggap membahayakan kepentingan kekuasaan terselubung. Sedang kaki-tangan mereka diselamatkan dengan cara seolah-olah dipenjarakan, untuk mengelabui masyarakat umum, seperti nasib wanita Australia dan sopirnya itu. Ada dalang yang memainkan wayang tiga
serangkai dari balik layar.

0 komentar: